Berita Sepakbola Terlengkap

Berita Sepakbola Terlengkap Indonesia

Pemain yang Gacor Disulap Ange Postecoglu

Ada pemandangan baru di Tottenham Hotspur. Di bawah asuhan pelatih Ange Postecoglou, siapa sangka tim yang terpuruk musim lalu itu tampil cukup mengesankan di awal musim ini. Lihat beberapa pemain yang diandalkan Postecoglou sekarang. Banyak muka baru yang sebelumnya jarang kita lihat. Beberapa pemain tersebut terbukti makin berkembang ketika dibesut pelatih asal Negeri Kangguru tersebut. Siapa saja sih mereka?

Yves Bissouma

Yang pertama ada Yves Bissouma. Masih ingat kehebatan pemain asal Mali ini ketika di Brighton? Ia di Brighton terbukti menjadi senjata ampuh Graham Potter di lini tengah. Justru berkat performa apiknya tersebut, Antonio Conte kepincut untuk memboyongnya. Bissouma dibeli dengan mahar yang tak sedikit oleh Spurs musim lalu, yakni sekitar 25 juta pounds.

Tapi apa yang terjadi setelah Bissouma pindah? Ia jarang dipakai Conte. Conte lebih percaya duet Bentancur dan Hojbjerg di lini tengah. Bissouma hanya bermain sebagai starter sebanyak 10 kali saja musim lalu. Untung saja ia tak dijual musim ini.

Kedatangan Ange Postecoglou dengan sistem “AngeBall”-nya ternyata sangat membutuhkan peran Bissouma. Hojbjerg bahkan sudah jadi korban dan jarang dipakai. Duet Bissouma dengan Matar Sarr terbukti solid ketika beberapa kali dicoba mengawal kedalaman lini tengah Spurs.

Bissouma kini menjadi pemain penting di sistem “AngeBall”. Bahkan kalau menurut catatan Livescore, tidak ada pemain manapun di lima liga top Eropa yang mempunyai kombinasi tekel dan intersep sukses lebih banyak dari Bissouma, yakni 33 kali. Data tersebut tercatat hingga laga derby melawan Arsenal.

Ya, Bissouma kembali hidup performanya setelah dipermak oleh sistem “AngeBall”. Ia ternyata lebih cocok dengan skema empat bek Spurs yang sekarang, ketimbang tiga bek dulu di era Conte.

Pape Matar Sarr

Begitupun partner Bissouma di lini tengah Spurs sekarang, Pape Matar Sarr. Angkat tangan siapa yang tahu pemain ini sebelumnya di Spurs? Ya, memang dia jarang tampil. Tapi siapa sangka, pemain muda ini sudah dibeli Spurs sejak musim 2021/22.

Namun di musim itu, ia langsung dipinjamkan semusim di FC Metz. Sarr ini baru kembali lagi ke Spurs musim lalu. Tapi, ia tak langsung mendapat kesempatan bermain lebih. Tahu sendiri, Conte lebih percaya duet Bentancur dan Hojbjerg di lini tengah. Ya, kurang lebih nasib Sarr mirip seperti Bissouma musim lalu. Sarr bahkan lebih sedikit jadi starter yakni hanya 5 kali saja.

Akibatnya, di musim baru ini ia diminati beberapa klub. Menurut Dailymail ia bahkan sudah didekati intens empat klub yang mau membeli maupun meminjamnya. Namun apa yang terjadi? Postecoglou langsung memasang badan untuk Sarr. Ia mengatakan Sarr tidak untuk dijual. Sarr sangat dibutuhkan dalam rencana sistem Postecoglou.

Benar saja, duetnya bersama Bissouma menjelma menjadi double pivot yang solid bagi Spurs di awal musim ini. Keberadaan Sarr saling melengkapi peran Bissouma. Mereka berbagi tugas dengan baik. Bahkan Sarr sempat lho mencetak gol ketika melawan MU.

Dengan usia yang masih sangat muda yakni 21 tahun, prospek jangka panjang Sarr dibawah Postecoglou ini akan menarik. Bisa jadi, pemain Senegal ini bisa jadi komoditi pemain mahal di masa mendatang, jika performanya terus berkembang di tangan Postecoglou.

Destiny Udogie

Begitu juga seorang bek kiri bernama Destiny Udogie. Ini juga merupakan daun muda. Umurnya masih 20 tahun. FYI aja, pemain berpaspor Italia ini sudah dibeli Spurs dari Udinese sejak musim lalu. Bahkan Conte sendiri yang meminta Udogie datang ke Spurs. Conte kesengsem setelah melihat performanya mengkilap bersama Udinese.

Tapi sayang, nasibnya juga sama seperti Pape Sarr. Udogie dibeli namun langsung dipinjamkan. Conte lebih percaya Ivan Perisic yang sudah matang, untuk mengisi pos wing back kiri diformat tiga beknya.

Tapi berbeda di musim ini. Setelah kembali dari masa peminjaman, Udogie langsung membuktikan sedari pramusim kepada pelatih baru Postecoglou bahwa dirinya siap bersaing mendapat tempat di sektor bek kiri.

Strategi Postecoglou berbeda dengan Conte. Postecoglou menggunakan dua full back murni. Hal itu membuat Udogie berpotensi mengalahkan pesaingnya seperti Perisic yang lebih bagus bermain sebagai wing back.

Tak sia-sia keputusan Postecoglou mempercayakan posisi bek kiri Spurs kepada dirinya. Penampilannya spektakuler di awal musim. Udogie kini jadi maskot bersama Pedro Porro sebagai Inverted Full Back dalam sistem “Ange Ball”.

Pedro Porro

Rekan Udogie, Pedro Porro musim lalu dibeli Spurs dari Sporting Lisbon di pertengahan musim. Punya Doherty dan Emerson Royal di bek kanan, ternyata tak cukup bagi Conte untuk bermain dengan pola wing back-nya.

Kepiawaian Porro merangsek naik ke depan dari sisi kanan, serta umpan silangnya yang akurat seperti di Sporting, diharapkan bisa menambah dimensi serangan baru bagi Spurs di era Conte. Makanya, Porro berani dibeli mahal, yakni sekitar 39 juta pounds.

Namun apa yang terjadi? Porro tak kunjung berkembang di posisi wing back. Ia hanya dipercaya Conte di 13 laga saja menjadi starter. Buruknya transisi bertahan di sisi kanan Spurs, juga pengaruh dari buruknya atribut Porro dalam segi bertahan.

Namun di musim ini berbeda. Memang awalnya Postecoglou di laga pembuka Liga Inggris melawan Brentford, masih memakai Emerson Royal sebagai bek kanan. Tapi setelah Postecoglou jeli melihat perkembangan Porro di sesi latihan, ia kemudian berani berpaling dari Emerson.

Porro dibentuk bersama Udogie sebagai dua full back andalan Spurs hingga sekarang. Dua-duanya bahkan kini terkenal saling melengkapi sebagai duo Inverted Full Back yang solid.

Kekhawatiran segi atribut bertahan Porro sejak musim lalu, ternyata bisa kok diantisipasi oleh Postecoglou. Terbukti, pertahanan Spurs kini solid dengan menggunakan poros duo Inverted Full Back-nya tersebut.

James Maddison

“Sebuah penandatanganan di waktu yang tepat.” Begitulah pernyataan Postecoglou seperti dilansir Talksport, ketika melihat James Maddison hijrah ke Tottenham Hotspurs Stadium musim ini. Maddison dibeli dari Leicester yang terdegradasi musim lalu dengan mahar 40 juta pounds.

Maddison musim lalu dianggap bapuk, karena tak mampu mengangkat timnya itu keluar dari jurang degradasi. Ia juga kerap sakit-sakitan dengan riwayat cederanya musim lalu.

Itulah beberapa hal yang diragukan banyak publik Spurs, ketika Maddison datang. Tapi tunggu dulu, ada sisi lain yang mengatakan bahwa Maddison masih yang terbaik. Ia ibarat ruhnya The Foxes di lini tengah. Kreativitas, keunggulan bola mati, serta finishing-nya yang lumayan, membuat ia masih bisa mengoleksi 10 gol dan 9 assist musim lalu.

Data itulah yang dilihat Postecoglou. Ia sangat senang mendapat pemain kreatif seperti Maddison. Pasalnya, ia butuh sosok tersebut dalam sistemnya. Maklum, di Spurs beberapa musim ke belakang tak ada lagi stok gelandang serang yang kreatif.

Dan terbukti benar. Dimensi serangan Spurs makin bervariasi musim ini, khususnya di lini tengah. Maddison menjadi komando untuk menyuplai umpan manja ke tiga penyerang Spurs di depan. Hingga pekan ke-6 Liga Inggris, Maddison terbukti sudah mengoleksi 2 gol dan 4 assist. Ia bahkan sempat dianugerahi pemain terbaik Liga Inggris pada bulan Agustus lalu.

Sumber Referensi : theanalyst, planetfootball, dailymail, givemesport, livescore

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *