Berita Sepakbola Terlengkap

Berita Sepakbola Terlengkap Indonesia

Metode Gila Louis Van Gaal Yang Lahirkan Filosofi Bayern Munchen

Di musim 2022/23, Bayern Munchen mempertahankan gelar Bundesliga ke-11 berturut-turut. Ini bukti bagaimana Bayern Munchen sangat mendominasi di Jerman. Tidak peduli ada gangguan pergantian pelatih di tengah musim atau masalah apapun. Itu sama sekali tidak menggoyahkan die bayern. Karena menjuarai Bundesliga adalah sebuah keniscayaan bagi the bavaria.

Jika lihat bagaimana awalnya, Louis Van Gaal memiliki peran yang penting dalam membentuk Bayern era modern ini. Tentu saja, ada ada banyak faktor yang membuat Bayern begitu mendominasi di Bundesliga. Tapi pelatih legendaris asal Belanda itu adalah salah satu faktornya.

Bayern Sebelum Van Gaal

Karena sebelum era Van Gaal tepatnya tahun 2009-2011, Bundesliga masih terhitung kompetitif. Bayern memang langganan juara. Tapi mereka tidak begitu mendominasi. Jangankan mempertahankan gelar liga selama satu dekade. Bisa back-to-back juara liga Jerman pun jarang.

Malah, Bayern sempat berada dalam keterpurukan di tahun 2008. Saat itu manajer ikonik mereka, Ottmar Hitzfeld memutuskan pensiun. Bukannya mencari pengganti yang kompeten, Bayern memutuskan bereksperimen untuk musim 2008/09.

Mereka menunjuk Jurgen Klinsmann yang tampil apik di timnas Jerman. Bayern memandang Klinsmann adalah pelatih muda yang memiliki pendekatan dan ide-ide lebih modern. Itu memang benar dan sudah Klinsmann terapkan di die mannschaft.

Tapi ada poin minus dari Klinsmann yang seharusnya tidak diabaikan. Ia belum pernah melatih klub sebelumnya. Apalagi klub sebesar Bayern Munchen. Klinsmann juga tak punya pengalaman di Bundesliga.

Bukan kejutan kalau eksperimen Bayern itu gagal. Mereka berada di posisi ke-3 Bundesliga sampai pekan ke-29. Untungnya saat itu Jupp Heynckess datang menyelamatkan Bayern. Dengan sisa lima pertandingan, ia membawa Bayern menang 4 kali dan imbang sekali untuk naik ke peringkat kedua. Cukup untuk dapat tiket Liga Champions musim depan.

Oh iya, bicara soal Liga Champions, Bayern juga bukanlah klub yang ditakuti oleh klub papan atas Eropa. Di era 2000-an akhir mereka tidak bisa berbuat banyak di Champions League. Contohnya saja di musim 2008/09 itu Bayern kandas lawan Barcelona dengan agregat 5-1 di babak perempat final.

Kedatangan Van Gaal

Belajar dari pengalaman itu, Bayern mencari pelatih baru yang cocok. Kriterianya adalah berpengalaman dan disiplin. Pelatih yang akan memerintah dengan tangan besi. Mereka menemukan jawaban itu pada diri Louis Van Gaal.

Sebenarnya banyak yang meragukan Van Gaal sebagai manajer Bayern. Pelatih asal Belanda itu terkenal dengan gaya kepemimpinannya yang otoriter dan keras. Ia juga terkesan arogan dan bermulut besar.

Tapi Van Gaal malah melihat kalau itu merupakan kesamaan yang ia miliki dengan klub. Van Gaal memandang sifatnya yang arogan dan sombong itu sangat cocok dengan budaya the bavaria. Hal tersebut diucapkannya di konferensi pers pertamanya sebagai manajer Bayern.

“Budaya klub ini sangat pas dengan saya. Klub ini mirip seperti saya. Percaya diri, dominan, sombong, jujur, pekerja keras, tapi tetap juga ramah dan kekeluargaan” Ucapnya dikutip dari four four two.

Satu hal yang bisa disetujui, Van Gaal memang bukan pelatih yang paling digemari di dunia. Kabarnya pemilik Bayern Uli Hoeness bahkan tidak mau menatap mata Van Gaal. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau Van Gaal punya prestasi gemilang.

Sebelum di datang ke Bayern, Van Gaal sudah punya predikat pelatih berpengalaman. Ia menukangi tim besar seperti Ajax, Barcelona, dan timnas Belanda. Van Gaal bahkan mampu membawa AZ Alkmaar juara Eredivisie di musim 2008/09.

Awal Musim Mengecewakan, Hampir Dipecat

Meskipun begitu, melatih Bayern terbukti pekerjaan yang menantang untuknya. die bayern kesusahan di pertengahan awal musim Bundesliga 2009/10. Di 10 pertandingan pertama, die roten hanya menang 5 kali. 5 pertandingan sisanya diraih dengan tiga kali imbang dan dua kali kalah.

Hasil mengecewakan dilanjutkan di tiga pertandingan selanjutnya. Bayern hanya mampu meraih hasil imbang. Hasil itu membuat anak asuh Van Gaal terdampar di posisi ke-7 di pekan ke-13. Tentu saja berada di papan tengah bukanlah posisi yang baik untuk Munchen.

Selain itu, mereka juga sial di Champions League. Berada di grup A yang berisi Bordeaux, Maccabi Haifa, dan Juventus, Bayern hanya mampu menang sekali di empat pertemuan pertama. Dengan hasil itu, Van Gaal butuh keajaiban untuk bisa membawa timnya lolos fase grup.

Isu pun muncul kalau Van Gaal akan dipecat jika Bayern benar-benar tidak bisa lolos grup. Bahkan Van Gaal saat itu tidak bisa membantah saat ditanya kebenaran rumor tersebut oleh para wartawan.

Dengan nada defensif ia berkata “Jika saya dipecat sekarang, memangnya siapa yang akan Bayern rekrut? Ferguson? Capello? Mereka memang lebih sukses tapi mereka tidak tersedia sekarang.”

Singkirkan Para Pemain Bintang

Penyebab hasil buruk itu tentu saja karena Van Gaal masih perlu beradaptasi di Bundesliga. Ia perlu menyesuaikan permainan Bayern peninggalan Klinsmann agar nyetel dengan permainannya. Tapi karena itu pula, ia bermasalah dengan beberapa pemain.

Ia berselisih dengan Lucio. Membuat defender asal Brasil itu hengkang dan bergabung dengan Inter hanya beberapa minggu setelah Van Gaal mengambil alih. Padahal ia termasuk pemain lama dan andalan Bayern. Ia sudah memainkan lebih dari 100 pertandingan bersama the bavarian.

Dikutip dari Sportskeeda, Lucio berkata: “Van Gaal menyakiti saya lebih dari siapapun di sepak bola. Dia bahkan tidak menjelaskan apapun soal mengapa saya tidak dibutuhkan. Saya adalah juara Piala Dunia bersama Brasil dan saya dinobatkan sebagai bek terbaik di Bundesliga. Saya bukan pemain muda yang harus membuktikan kualitas kepada seorang pelatih baru”.

Lucio bukan satu-satunya pemain bintang yang berselisih dengan Van Gaal. Striker andalan Bayern, Luca Toni pun tak suka dengan metode kepemimpinan Van Gaal. Ia menuding sang manajer memperlakukan para pemainnya seperti benda.

“Ia memperlakukan para pemain seperti benda yang bisa dipakai atau tidak begitu saja. Van Gaal sama sekali tidak ingin bekerja bersama saya.”

Luca Toni bahkan mengungkapkan cerita soal gilanya Van Gaal saat itu. Toni mengungkapkan kalau Van Gaal sempat menunjukan kalau ia adalah orang yang berkuasa di klub. Tapi cara yang digunakan Van Gaal tergolong gila.

“Van Gaal mengatakan kalau dia bisa membuang siapapun di skuad. Ia berkata kalau itu karena dia yang punya bolanya. Kemudian ia menurunkan celananya dan menunjukan bola-nya kepada kami. Itu benar-benar gila. Untungnya saya berada di belakang jadi melihat banyak”

Toni hanya memainkan empat pertandingan saja bersama Van Gaal. Ia langsung minta dipinjamkan ke Roma di pertengahan musim 2009/10. Setelah masa peminjamannya habis, ia dipermanenkan Roma karena tidak mau kembali lagi ke Bayern.

Perubahan di Munchen

Sebenarnya Van Gaal tidak membuang para pemain itu tanpa alasan. Ia tentu saja punya sistemnya sendiri. Di masa awal Van Gaal di Bayern ini, ia berusaha merubah permainan Bayern. Sebelumnya, Bayern mengandalkan permainan fisik dan menekan. Tapi Van Gaal mulai mengajari pentingnya ball possession dan umpan-umpan pendek.

Van Gaal juga jeli dalam melihat potensi pemain. Van Gaal lah yang membawa Arjen Robben ke Bavaria. Meskipun saat Robben masih di Madrid, ia sering kena cedera dan dianggap Flop.

Van Gaal juga berperan dalam evolusi Bastian Schweinsteiger. Dulunya ia adalah pemain sayap. Van Gaal melihat Schweinsteiger tidak memiliki kecepatan yang cukup untuk jadi sayap di formasinya. Tapi ia pandai dalam membaca permainan dan melakukan umpan. Van Gaal pun menempatkannya jadi gelandang. Dan ternyata Schweinsteiger langsung jadi salah satu gelandang terbaik dunia saat itu.

Ia juga memanggil gelandang berusia 17 tahun bernama David Alaba dari tim muda Bayern untuk bermain sebagai bek kiri. Itu keputusan yang bahkan membuat Alaba kaget. Sebab ia belum pernah jadi bek kiri sebelumnya. Tapi kita tahu David Alaba kemudian jadi salah satu bek kiri terbaik yang pernah ada.

Pemain muda lainnya yang dipanggil adalah Holger Badstuber dan Thomas Muller. Muller yang saat itu masih berusia 20 tahun langsung dijadikan andalan oleh Van Gaal. Ia bisa bermain di segala sisi serang. Muller tidak segan untuk menjemput bola ke belakang untuk melakukan build up. Itu kualitas yang tidak dimiliki Luca Toni.

Domestic Double dan Final Champions

Perubahan-perubahan yang dilakukan Van Gaal itu memerlukan proses. Tapi sekalinya sudah nyetel, langsung terasa hasilnya. Bayern mulai bisa menunjukan tajinya di liga. Kemenangan demi kemenangan mereka raih. Sampai akhirnya menjelang akhir musim atau di pekan ke-24, die roten merebut posisi puncak. Posisi itu mereka pertahankan sampai akhir musim.

Van Gaal pun jadi pelatih asal Belanda pertama yang menjuarai Bundesliga. Tapi tidak hanya itu. Van Gaal juga membawa Bayern menjuarai DFB Pokal setelah membantai Werder Bremen 4-0 di final.

Oh ya, perjalanan Liga Champions mereka juga tidak kalah heroik. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Van Gaal sudah pasti dipecat jika tidak lolos fase grup. Untuk itu di pertandingan terakhir fase grup lawan Juventus, Van Gaal tidak ada pilihan lain selain menang. Dan bisa ditebak, Bayern dengan hebatnya mengalahkan Juve dengan skor 1-4 di Turin.

The Bavaria kemudian melanjutkan langkah mereka di Champions League dan Van Gaal tak jadi kehilangan pekerjaan. Mereka mengalahkan Fiorentina di babak 16 besar, kemudian menang tipis berkat unggul gol tandang lawan Manchester United, lalu menghempaskan Lyon di semifinal.

Tidak ada yang menyangka Bayern bisa sampai final Liga Champions saat itu. Sayangnya mereka kalah di final. Anak asuh Van Gaal masih belum cukup kuat untuk mengalahkan Inter, yang ironisnya saat itu dilatih oleh mantan murid Van Gaal. Ya Jose Mourinho pernah jadi murid Van Gaal saat jadi asistennya di Barcelona.

Akhir Penuh Bencana

Dapat domestic double dan sampai ke final Liga Champions bukanlah prestasi yang main-main. Bahkan untuk Bayern sekarang. Dan Van Gaal bisa melakukan itu di musim pertamanya. Juga disaat Bayern masih belum sekuat era sekarang.

Tapi bukan Bayern namanya kalau kita mengakhiri cerita perjalanan seorang pelatih dengan happy ending. Di musim 2010/11, performa Bayern bersama Van Gaal mulai menurun. Atau lebih tepatnya, muncul Borussia Dortmund bersama Jurgen Klopp yang jadi penantang serius.

Tapi masalahnya tidak hanya itu. Bayern benar-benar berada dalam bencana. Di 10 pertandingan pertama Bundesliga, die roten hanya bisa 4 kali menang. Itu menempatkan mereka di posisi ke-7. Di Liga Champions, meskipun mampu memuncaki klasemen tapi mereka langsung tersingkir di babak 16 besar.

Ditambah lagi perseteruan Van Gaal dan Hoeness. Hoeness tidak suka dengan Van Gaal yang terlalu mengurusi semua urusan di Bayern. Juga tidak mengindahkan saran Hoeness soal pembelian pemain. “Sulit berbicara dengannya karena dia tidak bisa menerima pendapat orang lain”

Tapi, Van Gaal malah berkata kalau Hoeness lah yang suka ikut campur semua urusan. Ia berkata kalau presiden memegang pengaruh terlalu besar di dewan direksi sampai ke pelatih.

“Presiden punya pengaruh dalam segala hal dari dewan direksi sampai pelatih. Hoeness satu-satunya orang yang ingin saya keluar”

Bapak Sepak Bola Modern Bayern

Van Gaal pada akhirnya dipecat pada bulan April 2011 setelah membuat Bayern duduk di posisi ke-4 di liga. Meskipun akhir kepemimpinan Van Gaal penuh bencana, tapi ia sudah menetapkan filosofi dasar die roten. Seperti pendapat yang disampaikan di awal, Van Gaal adalah faktor mengapa Bayern bisa jadi tim yang sangat kuat.

Van Gaal lah yang membuat Bayern memainkan skema 4-5-1. Mengandalkan dua bek sayap yang menyerang dan satu striker tunggal. Dan tentu saja, dua sayap mematikan seperti Ribery dan Robben. Thomas Muller yang tadinya hanya jadi pemain muda tak terpakai juga jadi pemain krusial Bayern.

Legenda Munchen, Philipp Lahm juga setuju kalau Van Gaal lah yang merevolusi sepak bola modern die bayern. Dikutip dari Mirror, Lahm berkata: “Dia memperkenalkan fokus taktik yang jelas dan gaya sepakbola modern kami pun lahir. Seorang striker, dua gelandang bertahan, dan dua sayap, filosofi itu lah yang membentuk kami”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *