Berita Sepakbola Terlengkap

Berita Sepakbola Terlengkap Indonesia

Bek MU Mau Ngelawak Lagi?

Rungkad. Benar-benar rungkad. Kemenangan Manchester United atas Sevilla yang sudah di depan mata sirna begitu saja. Lucunya, biang keladinya adalah pemainnya sendiri.

Susah payah Marcel Sabitzer membuat United unggul lebih dulu lewat dua golnya, eh dua bek mereka, Tyrell Malacia dan Harry Maguire meloloskan bola ke gawangnya sendiri. Kegagalan United memetik kemenangan di laga pertama perempat final Liga Eropa bisa jadi akan membuat mereka kesulitan.

Kalau di rumahnya sendiri saja gagal menang, bagaimana jika bermain di markasnya Sevilla? Belum lagi MU juga masih dihantui performa beknya yangย  terkadang menimbulkan tawa. Jadi, mungkinkah United mengalahkan Sevilla di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan. Atau justru anak asuh Jose Mendilibar yang mengambil kesempatan emas tersebut?

Bek MU Ngelawak di Leg Pertama

Pada leg pertama Manchester United sejatinya tampil apik di rumahnya sendiri. Pertahanan United belum bermasalah sama sekali di babak pertama. Berkat Lisandro Martinez dan Raphael Varane gawang MU aman di babak pertama. Setan Merah juga bisa menguasai bola.

Anak asuh Erik ten Hag mendominasi penguasaan bola di babak pertama dengan 57%. Mereka juga aktif melakukan tembakan tepat sasaran di paruh pertama sebanyak lima kali. Berbanding terbalik dengan Sevilla yang hanya sekali melakukan shoot on target.

Gelagat tidak baik mulai muncul di babak kedua. Apalagi ketika Varane keluar digantikan Baginda Maguire. Benar saja United kalang kabut. Alih-alih menambah gol, Tyrell Malacia justru membobol gawangnya sendiri pada menit ke-84.

Lalu di masa injury time petaka muncul ketika Sevilla menyerang lini bertahan MU. Tiba-tiba sundulan Youssef En-Nesyri yang aslinya melebar terkena jidat Maguire dan masuk ke gawang De Gea.

Kelemahan United di Laga Tersebut

Dua gol bunuh diri dari dua beknya selain menimbulkan tawa juga memperlihatkan kelemahan United. Mereka kehilangan kendali setelah totalitas di babak pertama. Erik ten Hag pun mengakui hal itu. Ia mengatakan, di babak pertama anak asuhnya bermain dengan penuh keyakinan, terutama untuk mengejar gol.

Walaupun pada laga itu banyak tembakan United yang mentah. Dari tujuh tembakan dengan lima mengarah ke gawang, hanya dua yang berhasil membobol gawang Sevilla. Ini menandakan kehilangan Marcus Rashford di laga itu cukup berpengaruh.

Sementara di babak kedua, apalagi sejak masuknya Maguire permainan United goyah. United kerap diserang. Manchester United yang tak punya ketahanan dalam bertahan akhirnya jebol juga.

Terlepas dari gol bunuh diri, intensitas serangan Sevilla meningkat di babak kedua. Di babak pertama Los Palanganas hanya mengemas satu shoot on target, tapi di babak kedua mereka melepas total dua tembakan tepat sasaran.

Kerugian Manchester United

Selain rugi karena gagal menang di Old Trafford, Manchester United juga rugi karena beberapa pemain pilarnya tak bisa bermain di leg kedua. MU kehilangan Lisandro Martinez yang cedera metatarsal. Begitu pula Varane.

Tanpa dua bek itu, Manchester United terbukti kelabakan. Mau tidak mau di Sanchez Pizjuan nanti, United akan mengandalkan Victor Lindelof dan Harry Maguire. Nama yang kedua kita tahu betapa lawaknya bek yang satu ini.

Harapannya Maguire tak lagi berkomedi di laga kedua. Tentu ini sulit, tapi bukan sebuah hil yang mustahal Maguire akan memperbaiki penampilannya di leg kedua. Apalagi ia punya modal bagus kala melawan Nottingham Forest di Liga Inggris.

Duetnya dengan Lindelof plus keberadaan David De Gea membuat MU nirbobol di laga itu. Maguire setidaknya melakukan delapan sapuan dan tiga kali intersep. Ia juga memenangkan tiga dari lima percobaan duel darat. Partnernya, Lindelof juga bermain apik di laga kontra Forest.

Bek berpaspor Swedia itu memenangi semua duel darat. Tidak hanya itu, ia juga memenangi satu dari dua duel udara. Dua manusia inilah yang bisa diandalkan United di leg kedua nanti. Itu belum termasuk Luke Shaw. Jika Shawberto bisa bermain, MU tak perlu terlalu cemas kehilangan Varane dan Licha.

Namun, MU juga tanpa Bruno Fernandes di leg kedua nanti. Gelandang Portugal itu tak bisa bermain di leg kedua lantaran akumulasi kartu. Tanpa Bruno Fernandes, mungkinkah MU kesulitan?

Casemiro-Eriksen

Bruno Fernandes memang sosok vital di tubuh United. Kreativitasnya sangat dibutuhkan terutama ketika United melakukan transisi ke menyerang. Hanya saja Bruno bukan segalanya. Toh Christian Eriksen sudah kembali.

Pemain Denmark itu merumput lagi di laga kontra Nottingham Forest. Seperti biasa, Eriksen juga tampil yoi di laga itu. Walau baru pulih dari cedera, akurasi umpan sukses Eriksen menyentuh 89% di laga melawan Forest. Ia juga melakukan tiga kali umpan kunci di laga tersebut.

Tandemnya, Casemiro juga terbiasa bermain klinis. Di leg kedua nanti, United bisa jadi akan mengandalkan duet Casemiro-Eriksen sebagai dua pivot. Itu akan didukung dengan Marcel Sabitzer jika tidak bermasalah. Sebab kabarnya, Sabitzer cedera sebelum laga melawan Forest.

Sevilla Sedang dalam Tren Positif

Jika Manchester United masih belum terlalu buruk penampilannya, terutama ketika hanya mereka dan Manchester City lima besar Premier League yang memetik kemenangan di gameweek kemarin, Sevilla juga sama. Sejak ditukangi Jose Luis Mendilibar, Sevilla dalam tren positif.

Bahkan Los Palanganas belum menyentuh satu pun kekalahan. Di Liga Eropa menahan imbang United, sedangkan di kancah domestik Sevilla baru saja melibas Valencia 2-0. Kemenangan tandang di Mestalla itu adalah modal berharga sebelum menghadapi United di leg kedua.

Sebelum dilatih Mendilibar kelemahan Sevilla adalah mentalitas. Namun, setelah ditukangi eks pelatih Real Valladolid itu mentalitas Sevilla benar-benar terdongkrak. Tiga laga di seluruh kompetisi era Mendilibar, Sevilla meraih satu kemenangan dan dua hasil imbang.

Dalam empat laga terakhir Sevilla juga konsisten mencetak dua gol per laga. Berbeda dengan United, Los Palanganas diprediksi tampil dengan kekuatan penuhnya. Sevilla bisa jadi akan menurunkan pemain yang tampil bagus di leg pertama, seperti Luis Ocampos, En-Nesyri, dan Jesus Navas.

Khusus nama yang terakhir adalah ancaman serius, karena di leg pertama saat ia masuk permainan Sevilla jadi lebih hidup. Navas bisa sangat aktif menyuplai bola, terutama crossing. Nah soal mengantisipasi crossing inilah yang kerap bermasalah bagi United.

Sevilla Bukan Lawan Mudah di Kandang

Masalah berikutnya, Sevilla seperti kucing yang berubah menjadi harimau ketika bermain di kandang. Apalagi di kompetisi Liga Eropa. Los Palanganas memenangkan 25 laga dari 28 pertandingan Liga Eropa di kandang mereka sendiri. Itu terhitung sejak Maret 2014.

Satu-satunya kekalahan Sevilla di rumahnya sendiri di Liga Eropa yaitu kala menghadapi Athletic Bilbao pada 2016. Sisanya pada 2019 mereka menahan imbang Slavia Praha dan pada 2020 ditahan imbang tim Rumania, CFR Cluj.

Dengan kata lain Stadion Ramon Sanchez Pizjuan merupakan tempat yang angker bagi lawan-lawan Sevilla di Liga Eropa. Setan Merah sendiri terakhir kali bertemu Sevilla di rumahnya harus menelan kekalahan 2-1. Ini sinyal bahaya bagi United.

Terlepas dari itu, mungkinkah United memberikan kekalahan pertama untuk Sevilla? Ya. Asalkan Setan Merah mendekati laga dengan benar. Pasukan Ten Hag mesti mengambil inisiatif permainan terlebih dahulu sebagaimana di leg pertama.

Kemudian ini yang terpenting: ketenangan lini bertahan. Soal pertama Ten Hag bisa mengatasinya. Namun, untuk soal kedua, pemain yang kerap apes seperti Maguire mungkin tidak dimainkan dulu, atau kalaupun terpaksa turun, sebelum laga Maguire mungkin perlu mandi kembang tujuh rupa dulu biar nggak apes lagi.

Sumber: ManUTD, TheGuardian, Fotmob, DailyPost, UEFA, TheAnalyst, Football-Espana, SevillaFC, Sofascore, Football5Star

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *